img
Kejaksaan Negeri Depok

JPU Hadirkan Ahli Linguistik Forensik & Sosiolog Hukum Dalam Sidang Perkara Babi Ngepet

Depok, Selasa 12 Oktober 2021 bertempat di ruang sidang tiga Pengadilan Negeri Depok Jaksa Penuntut Umum Alfa Dera dan Putri Dwi menghadirkan dua Ahli dalam sidang yang beragendakan Pembuktian. Ahli yang dihadirkan secara Virtual adalah ahli di bidang Bahasa dan Ahli Sosiologi Hukum. 


Telah ada Tujuh saksi dan Dua Ahli yang di hadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum Alfa Dera dan Dwi Putri dalam persidangan dengan terdakwa Adam Ibrahim (44). Hadir antara lain  ahli  Prof. Dr. Andika Dutha Bachari, S.Pd, M.Hum yang merupakan  Guru Besar Bahasa di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang mana ahli tersebut berkompetensi di bidang kajian linguistik forensik. Serta DR. Drs Trubus rahadiansyah, MS, SH yang merupakan alumni strata dua dan tiga universitas Indonesia yang merupakan Akademisi di Universitas Trisakti  dan berkompetensi dibidang Sosiologi Hukum. 


“Berdasarkan keterangan kedua ahli yang dihadirkan dipersidangan baik dari sisi bahasa dengan metodelogi Kajian linguistik forensik dan Kajian sosiologi Hukum dikaitkan “Keonaran “ dalam unsur Pasal 14 Ayat (1) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau Pasal 14 Ayat (2) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana  Penuntut Umum berkeyakinan telah terpenuhi”  tutur Kasi Intel Kejari Depok Andi Rio Rahmat, S.H pada Selasa (12/10). 


Didalam  persidangan, DR. Drs Trubus rahadiansyah, MS, SH yang merupakan akademisi dan konsen  keilmuan sosiologi Hukum menerangkan terkait Pengertian Keonaran di kalangan rakyat adalah situasi dan kondisi warga masyarakat yang tidak kondusif yang berbentuk kecemasan sosial, ketegangan , kepanikan kegaduhan , kegemparan dan  kekacauan yang berpotensi menimbulkan perilaku anarki, sehingga bila dikaitkan dengan Kajian sosiologi Hukum serta Fakta Perbuatan Terdakwa yang menyebarkan berita bohong  yang mana perbuatan tersebut telah menyebabkan keonaran karna sampai membuat hadirnya kepolisian untuk turun membubarkan kerumunan serta adanya kecemasan di masyarakat terkait adanya babi ngepet yang mana menyebabkan kegemparan.


Kasi Intel Kejari Depok Andi Rio Rahmat, S.H  menjelaskan berdasarkan keterangan ahli Kajian linguistik forensik, dikaitkan “Keonaran “ dalam unsur Pasal 14 Ayat (1) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau Pasal 14 Ayat (2) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang mana Linguistik forensik dapat didefinisikan sebagai penerapan ilmu linguistik dalam bidang hukum secara  teori, metode dan analisis bahasa untuk keperluan di bidang hukum, Penuntut Umum dari apa yang dipaparkan ahli dipersidangan berkeyakinan Pengertian Keonaran dari Penafsiaran Lingustik forensik telah terpenuhi.


“Jadi Seluruh saksi ,ahli yang dihadirkan telah menerangkan  atau didapatkan fakta telah terjadi perbuatan pidana sesuai apa yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut umum yakni Terdakwa telah melakukan perbuatan Pidana Pasal 14 Ayat (1) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau Pasal 14 Ayat (2) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana ucap Andi rio rahmat S.H selaku Kepala seksi Intelijen mewakili Kepala Sri Kuncoro selaku Kepala Kejaksaan Negeri depok. 


Kasi Intel Kejari Depok mengatakan selanjutnya sidang Penyebaran berita Bohong Babi ngepet Ini yang menyebabkan keonaran  ini ditunda Selasa 26 Oktober 2021 Dengan agenda Pemeriksaan Terdakwa.