Kejaksaan Negeri Kota Depok yang terletak di Jl. Boulevard Raya Grand Depok City, Kalimulya, Cilodong, Kota Depok telah didatangi Jamaah Koeban First Travel dengan jumlah 50 orang yang dipimpinan oleh Ade Mustofa dan Haris Suntoni (Korlap) serta Riesqi Rahmadiansyah (Advokat Pro Rakyat) dengan melakukan orasi dan Poster.

Para korban dalam aksi damai tersebut menuntut kejaksaan agar memasukan mekanisme pasal 98-100 KUHAP mengenai tuntutan ganti rugi dan mereka memohon agar Kepala Kejaksaan Negeri Depok mau menerima mereka untuk menyampaikan aspirasinya dan setelah dilakukan perundingan, para korban akhirnya diterima oleh Kepala Kejaksaan Negeri Depok Sufari, SH, MHum didampingi Kepala Seksi Tindak pidana Umum dan Salah jaksa Penuntut Umum.
Perwakilan dari para korban PT. First Travel dalam pertemuan tersebut menyampaikan bahwa kasus First Travel ini tidak sama dengan kasus Koperasi Pendawa dan mereka mengharapkan agar aset kasus PT. First Travel tidak dimasukkan ke kas negara karena pihak korban berharap dapat digunakan untuk pelaksanaan ibadah Umroh. Pada kesempatan tersebut Kajari menanggapi bahwa "First Travel ini jelas beda dengan kasus pandawa karena kasus Pandawa jelas masuk dalam pasal tindak pidana, sedangkan aset dari PT. First Travel akan terlihat pada saat pemeriksaan terdakwa dan baru dapat menyimpulkan setelah adanya keterangan dari para terdakwa pada sidang selanjutnya" ungkap beliau.

Kasus PT. First Travel diwarnai dengan kehebohan penipuan yang dilakukan oleh sepasang suami istri yang kerap pamer kehidupan mewah di media sosial. Mereka adalah Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan pimpinan PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel). Keduanya ditengarai melakukan penipuan dengan tidak memberangkatkan jemaah pergi umrah.

Andika dan istrinya beserta Kiki Hasibuan yang merupakan adik Anniesa Hasibuan disebut menipu mentah-mentah sekitar 58.682 calon jemaah umrah, periode Dessember 2016 hingga Mei 2017.

Dari puluhan ribu calon jemaah yang tidak jelas keberangkatannya itu, First Travel mengantongi Rp 848.700.100.000. Menurut data kepolisian, jumlah calon jemaah dalam kurun waktu tersebut berjumlah 72.682, namun baru 14.000 orang yang diberangkatkan ke Tanah Suci.

Ketiga bos First Travel tersebut membuat promo perjalanan umroh yang terbilang cukup miring. Harga murah meriah itulah yang menarik calon jemaah untuk mengikuti promo. Calon jemaah pun sudah melunasi pembayaran.

Saat ini sudah memasuki sidang yang ke 12 dengan agenda Pemeriksaan Saksi baik dari agen, karyawan sampai dengan publik figure dan kemungkinan masih banyak saksi-saksi tambahan lainnya dan perjalanan persidangan masih panjang. (my2)